A homepage subtitle here And an awesome description here!
Tampilkan postingan dengan label IPA BAB 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPA BAB 6. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Oktober 2019

Upaya Mencegah dan Menanggulangi Hipertensi dan Hipotensi

Penyebab Hipertensi/ Darah Tinggi
Hasil gambar untuk gambar hipertensi

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan seseorang memiliki tekanan darah tinggi. Ada faktor penyebab tekanan darah tinggi yang tidak dapat dikendalikan. Ada juga yang dapat dikendalikan sehingga bisa mengatasi penyakit darah tinggi ini. Beberapa faktor tersebut antara lain:
a. Keturunan
Faktor ini tidak bisa dikendalikan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada bukti gen yang diturunkan untuk masalah tekanan darah tinggi. Jadi jika seseorang memiliki orang tua atau saudara yang memiliki tekanan darah tinggi, maka kemungkinan ia menderita tekanan darah tinggi lebih besar. Statistik menunjukkan bahwa masalah tekanan darah tinggi lebih tinggi pada kembar identik daripada yang kembar tidak identik.
b. Usia
Faktor ini tidak bisa dikendalikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketika usia seseorang bertambah, maka tekanan darah pun akan meningkat. Anda tidak dapat mengharapkan bahwa tekanan darah Anda saat muda akan sama ketika Anda bertambah tua. Namun Anda dapat mengendalikan agar jangan melewati batas atas yang normal.
c. Garam
Faktor ini bisa dikendalikan. Pada beberapa orang, khususnya bagi penderita diabetes, penderita hipertensi ringan, orang dengan usia tua, dan mereka yang berkulit hitam, garam dapat meningkatkan tekanan darah dengan cepat. Untuk itu, bagi penderita-penderita tersebut diharapkan tidak mengkonsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung garam.
d. Kolesterol
Faktor ini bisa dikendalikan. Kolesterol akan tertimbun pada dinding pembuluh darah jika kandungan lemak dalam darah berlebihan. Hal ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan darah akan meningkat. Oleh karena itu, kendalikan kolesterol Anda sedini mungkin.
e. Obesitas/ Kegemukan
Faktor ini bisa dikendalikan. Orang yang memiliki berat badan di atas 30 persen berat badan ideal, memiliki kemungkinan lebih besar menderita tekanan darah tinggi. Perhitungan berat badan ideal.
f. Stres
Faktor ini bisa dikendalikan. Stres dan kondisi emosi yang tidak stabil juga dapat memicu tekanan darah tinggi.
g. Rokok
Faktor ini bisa dikendalikan. Merokok juga dapat meningkatkan tekanan darah menjadi tinggi. Kebiasan merokok dapat meningkatkan risiko diabetes, serangan jantung dan stroke. Karena itu, kebiasaan merokok yang terus dilanjutkan ketika memiliki tekanan darah tinggi, merupakan kombinasi yang sangat berbahaya yang akan memicu penyakit-penyakit yang berkaitan dengan jantung dan darah.
h. Kafein
Faktor ini bisa dikendalikan. Kafein yang terdapat pada kopi, teh,maupun minuman cola bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah.
i. Alkohol
Faktor ini bisa dikendalikan. Menkonsumsi alkohol secara berlebihan juga menyebabkan tekanan darah tinggi.
j. Kurang Olahraga
Faktor ini bisa dikendalikan. Kurang olahraga dan bergerak bisa menyebabkan tekanan darah dalam tubuh meningkat. Dengan olahraga secara teratur mampu menurunkan tekanan darah tinggi Anda. Namun, jangan melakukan olahraga yang berat jika Anda menderita tekanan darah tinggi.
Cara Mencegah dan Mengatasi Hipertensi/ Darah Tinggi
Berikut ini beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan untuk mencegah darah tinggi bagi Anda yang masih memiliki tekanan darah normal ataupun mengatasi darah tinggi bagi Anda yang sudah memiliki tekanan darah tinggi:
  • Kurangi konsumsi garam dalam makanan Anda. Jika Anda sudah menderita tekanan darah tinggi sebaiknya Anda menghindari makanan yang mengandung garam.
  • Konsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium. Kalium, magnesium dan kalsium mampu mengurangi tekanan darah tinggi.
  • Kurangi minuman atau makanan beralkohol. Jika Anda menderita tekanan darah tinggi, sebaiknya hindari konsumsi alkohol secara berlebihan. Untuk pria yang menderita hipertensi, jumlah alkohol yang diijinkan maksimal 30 ml alkohol per hari sedangkan wanita 15 ml per hari.
  • Lakukan olahraga secara teratur. Olahraga secara teratur bisa menurunkan tekanan darah tinggi. Jika Anda menderita tekanan darah tinggi, pilihlah olahraga yang ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, lari santai, dan berenang. Lakukan selama 30 hingga 45 menit sehari sebanyak 3 kali seminggu.
  • Perbanyak makan sayur dan buahyang berserat tinggi seperti sayuran hijau, pisang, tomat, wortel, melon, dan jeruk.
  • Lakukan terapi anti stres agar mengurangi stres dan Anda mampu mengendalikan emosi Anda.
  • Berhenti merokok juga berperan besar untuk mengurangi tekanan darah tinggi atau hipertensi.
  • Kendalikan kadar kolesterol Anda.
  • Kendalikan diabetes Anda.
  • Hindari obatyang bisa meningkatkan tekanan darah. Konsultasikan dan mintalah ke dokter Anda agar memberikan obat yang tidak meningkatkan tekanan darah.


Hipotensi Ortostatik

Hipotensi ortostatik adalah kondisi di mana penderitanya merasakan pusing ketika beranjak dari duduk atau berbaring. Kondisi tersebut muncul karena tekanan darah menurun, dan respons alami tubuh dalam mengembalikan tekanan darah menjadi normal mengalami gangguan.
Hipotensi ortostatik ringan umumnya hanya berlangsung selama beberapa menit. Apabila terjadi lebih lama, hal itu dapat menjadi tanda ada gangguan medis lain yang lebih diderita, seperti penyakit jantung. Bila tidak ditangani, dapat memicu munculnya kondisi lain, seperti stroke dan gagal jantung.
Hipotensi Ortostatik - alodokter

Gejala Hipotensi Ortostatik

Penderita hipotensi ortostatik akan mengalami pusing ketika beranjak dari duduk atau berbaring. Selain pusing, penderita hipotensi ortostatik juga dapat merasakan gejala lain, seperti:
  • Penglihatan kabur.
  • Badan terasa lemas.
  • Linglung.
  • Mual.
  • Pingsan.

Penyebab dan Faktor Risiko Hipotensi Ortostatik

Ketika seseorang beranjak dari duduk atau berbaring, darah dengan sendirinya akan mengalir ke kaki, sehingga mengurangi sirkulasi darah ke jantung dan menyebabkan penurunan tekanan darah. Normalnya tubuh memiliki respons alami dalam menangani kondisi tersebut. Namun pada penderita hipotensi ortostatik, respons alami tubuh dalam mengembalikan tekanan darah yang menurun tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Terdapat beberapa faktor yang diduga menyebabkan gangguan pada respons alami tubuh, terhadap menurunnya tekanan darah yang menimbulkan hipotensi ortostatik, yakni:
  • Ketidaknormalan fungsi jantung, seperti bradikardia, penyakit jantung koroner, atau gagal jantung.
  • Gangguan kelenjar endokrin, seperti penyakit Addison atau hipoglikemia.
  • Dehidrasi, misalnya akibat kurang minum air putih, demam, muntah, diare, dan berkeringat yang berlebihan.
  • Gangguan sistem saraf, seperti penyakit Parkinson atau multiple system atrophy.
  • Setelah makan. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien lanjut usia.
  • Penggunaan obat, seperti ACE inhibitors, angiotensin receptor blockers (ARB), dan penghambat beta.
Selain itu, terdapat pula beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami hipotensi ortostatik, yaitu:
  • Berusia 65 tahun atau lebih. Terkadang tekanan rendah akibat hipotensi ortostatik juga dapat terjadi pada anak-anak.
  • Berada di lingkungan bersuhu panas.
  • Tidak beraktivitas atau bergerak dalam waktu yang lama, seperti ketika dirawat di rumah sakit (bed rest).
  • Sedang hamil.
  • Mengonsumsi minuman beralkohol.

Diagnosis Hipotensi Ortostatik

Dalam mendiagnosis hipotensi ortostatik, dokter akan melakukan pengamatan terhadap gejala yang muncul, riwayat penyakit, dan kondisi pasien secara menyeluruh. Dokter juga akan menggunakan serangkaian tes untuk memastikan kondisi sekaligus mencari tahu penyebabnya.
Beberapa tes yang digunakan untuk mendiagnosis hipotensi ortostatik meliputi:
  • Pemeriksaan tekanan darah. Tes ini menggunakan alat khusus yang disebut tensimeter. Dalam prosesnya, dokter akan memeriksa tekanan darah ketika pasien duduk dan berdiri, kemudian membandingkannya.
  • Tes darah. Tes ini digunakan untuk memeriksa kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Tes darah juga digunakan untuk mendeteksi hipoglikemia atau anemia yang dapat menjadi pemicu menurunnya tekanan darah.
  • Elektrokardiografi. Elektrokardiografi (EKG) menggunakan alat khusus berupa elektrode yang diletakkan di dada, kaki, dan tangan pasien. Alat tersebut berfungsi untuk mendeteksi aktivitas listrik dalam jantung.
  • Ekokardiografi. Ekokardiografi menggunakan gelombang suara (USG) untuk menghasilkan gambar kondisi jantung.
  • Stress test. Tes ini dilakukan ketika jantung bekerja lebih keras, seperti saat berolahraga (berlari di mesin treadmill), kemudian kondisi jantung pasien akan diamati menggunakan EKG atau ekokardiografi.
  • Tilt table test atau tes meja miring. Dalam prosesnya, pasien akan diminta untuk berbaring pada ranjang khusus yang dapat diputar. Setelah pasien berbaring, dokter akan memeriksa tekanan darah pasien pada posisi yang berbeda-beda.
  • Manuver valsalva. Dalam tes ini, pasien akan diminta untuk mengikuti gerakan yang diinstruksikan dokter. Hal itu bertujuan untuk memeriksa fungsi sistem saraf otonom, dengan menilai denyut jantung dan tekanan darah.

Pengobatan dan Pencegahan Hipotensi Ortostatik

Metode pengobatan yang dilakukan dapat berbeda pada tiap pasien, tergantung penyebab yang menyertainya. Jika pasien mengalami pusing saat berdiri, pasien dapat segera duduk atau tiduran untuk meredakan gejala. Untuk gejala hipotensi ortostatik yang muncul disebabkan karena penggunaan obat, akan lebih baik jika pasien segera berkonsultasi dengan dokter. Dokter dapat mengurangi dosis atau menganjurkan pasien untuk berhenti menggunakan obat.
Dokter juga dapat menganjurkan metode lain untuk menangani hipotensi ortostatik, seperti:
  • Stoking atau kaus kaki kompresi. Stoking kompresi berfungsi untuk mencegah penumpukan darah di kaki sehingga gejala hipotensi ortostatik yang muncul dapat berkurang.
  • Obat, seperti pyridostigimine. Dosis yang digunakan akan disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Selain metode di atas, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menangani, sekaligus mencegah hipotensi ortostatik. Di antarnya adalah:
  • Banyak minum air putih.
  • Hindari mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Hindari tempat bersuhu panas.
  • Sandarkan kepala pada tempat yang lebih tinggi ketika berbaring.
  • Hindari menyilangkan kaki ketika duduk.
  • Ketika hendak berdiri, lakukanlah secara perlahan.
  • Perbanyak konsumsi garam jika Anda bukan penderita hipertensi.
  • Tidak makan dalam porsi yang berlebihan dan rendah karbohidrat, pada penderita hipotensi ortostatik yang timbul setelah makan.

Komplikasi Hipotensi Ortostatik

Hipotensi ortostatik yang telah diderita lama dan tidak mendapatkan penanganan, berisiko menimbulkan komplikasi. Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
  • Stroke.
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti gangguan irama jantung atau gagal jantung.


Upaya Mencegah dan Menanggulangi Anemia

Penyebab Penyakit Anemia

Hasil gambar untuk gambar anemia

Seseorang dikatakan menderita penyakit anemia karena jumlah sel darah merahnya di bawah normal. Kandungan sel darah merah dalam tubuh berbeda pada tiap orang, hal itu tergantung pada usia, jenis kelamin, tempat tinggal, kebiasaan merokok, dan status kehamilan. Lalu apa penyebab anemia, berikut faktornya:
  • Kurang asupan nutrisi pembentuk sel darah merah. Sel ini dibentuk oleh zat besi, vitamin B12, asam folat, dan vitamin C.
  • Pendarahan hebat. Hal ini bisa terjadi karena kecelakaan, persalinan atau pecahnya pembuluh darah.
  • Masalah sumsum tulang belakang. Salah satu contohnya anemia aplastik, suatu kondisi yang membuat sumsum tulang belakang tidak bisa memenuhi jumlah normal produksi sel darah merah. Anemia aplastik bisa disebabkan oleh inveksi virus, paparan bahan kimia, radiasi, antibiotik, obat antikejang atau dalam perawatan kanker.
  • Banyaknya sel darah merah yang hancur. Harusnya umur sel darah merah adalah 120 hari, tapi karena suatu hal, sel darah merah hancur lebih cepat. Kondisi ini disebut anemia hemolitik. Penyebabnya bisa dari thalasemia, defisiensi G6PD (umumnya sel darah normal memiliki bentuk seperti donat. Bentuk sel darah seperti sabit sulit untuk melewati pembuluh darah) dan anemia sel sabit (bentuk sel darah merah biasanya seperti donat. Karena berbentuk sabit jadi sulit untuk melewati pembuluh darah, apalagi pembuluh darah yang menyempit).
  • Kondisi tertentu. Beberapa kondisi tertentu menyebabkan seseorang mengalami anemia, seperti kondisi ibu hamil, gagal ginjal, infeksi parasit, dan leukimia. Ibu hamil membutuhkan lebih banyak zat besi dan gagal ginjal menyebabkan berkurangnya kompenen pembentuk sel darah merah yakni erythropoietin. Infeksi parasit, seperti adanya cacing tambang dalam tubuh yang menyerap darah. Leukimia (kanker darah) yang dapat menyebabkan mudahnya timbul pendarahan. Selain itu, ada beberapa kondisi tertentu yang menyebabkan sel darah merah berkurang atau hilang.

Gejala Penyakit Anemia 

Berikut tanda-tanda atau gejala penyakit anemia dalam tubuh :
  • Cepat lelah. Hal ini disebabkan kurangnya asupan oksigen akibat rendahnya jumlah sel darah merah, maka tubuh mudah terasa lelah.
  • Kelopak mata pucat. Salah satu cara mudah mendeteksi kurangnya sel darah merah adalah memperhatikan kelopak mata bagian bawah jika pucat berarti ada kemungkinan menderita anemia.
  • Detak jantung cepat atau tidak teratur. Hal ini disebabkan kurangnya oksigen yang mengalir dalam tubuh.
  • Sesak napas. Mudah terengah-engah saat melakukan aktivitas harian.
  • Mual. Saat bangun tidur, penderita anemia sering merasa mual.
  • Menurunnya kekebalan tubuh. Fungsi organ tubuh menjadi tidak maksimal karena kurangnya oksigen. Alhasil daya tahan tubuh menurun.
  • Rambut rontok, muka pucat, sakit kepala, ujung jari pucat, nyeri di dada, tangan dan kaki dingin, juga termasuk gejala dari anemia.
  • Lakukan pemeriksaan darah untuk memastikan apakah Anda mengidap penyakit anemia atau tidak.

Cara Mengatasi Penyakit Anemia 

Mencegah penyakit sejak dini dapat menurunkan risiko komplikasi di masa akan datang. Begitu pun dengan anemia, bila dicegah sejak dini akan mudah disembuhkan. Berikut ini sejumlah pencegahan penyakit anemia.
  1. Perbanyak makanan yang mengandung zat besi, vitamin B12, vitamin C, dan asam folat. Zat tersebut banyak terdapat pada daging, kacang, sayuran berwarna hijau, jeruk, pisang, sereal, susu, melon dan buah beri.
  2. Hindari minum kopi, teh, atau susu sehabis makan karena dapat mengganggu proses penyerapan zat besi dalam tubuh.
  3. Transfusi darah. Tambahan darah sesuai kebutuhan akan cepat mengembalikan jumlah sel darah merah dalam kondisi normal. Namun, setelah normal, pasien hendaknya menjaga agar terus stabil.
  4. Konsumsi suplemen. Pilih suplemen yang mengandung zat besi dan vitamin lengkap lainnya sebagai penunjang pembentukan sel darah merah. Namun jangan bergantung pada suplemen. Kandungan zat dalam suplemen biasanya lebih besar dari yang dibutuhkan tubuh sehingga menyebabkan kerja ginjal bertambah berat. Maka jika gejala anemia sudah hilang, lakukan pola hidup yang baik agar kesehatan ibu dan anak terjaga dan anemia tidak kambuh lagi.




Kamis, 17 Oktober 2019

Upaya Mencegah serta Menanggulangi Varises

Pengobatan dan Pencegahan Varises



Varises yang tergolong ringan umumnya tidak membutuhkan penanganan medis secara khusus, sehingga pengobatan dapat dilakukan di rumah. Namun, jika varises telah menimbulkan gejala atau menyebabkan komplikasi, maka tindakan medis mungkin perlu dilakukan. Metode pengobatan yang akan digunakan tergantung pada beberapa faktor, yaitu:
  • Kondisi pasien secara keseluruhan
  • Ukuran dan posisi varises
  • Tingkat keparahan varises.
Pengobatan varises bertujuan untuk meredakan gejala, mengurangi tingkat keparahan, dan mencegah terjadinya komplikasi. Beberapa metode pengobatan varises yang dapat dilakukan adalah:
  • Terapi obat. Dokter akan memberikan obat antiperadangan, seperti asam mefenamat atau ibuprofen untuk meredakan rasa nyeri dan pembengkakan.
  • Pemakaian stoking. Terapi ini dilakukan dengan menggunakan stoking kompresi khusus untuk menangani varises. Stoking kompresi bekerja dengan cara memberi tekanan pada otot kaki dan vena sehingga aliran darah lebih lancar. Stoking ini juga dapat meredakan pembengkakan dan nyeri akibat varises. Dokter umumnya menganjurkan pasien untuk menggunakan stoking kompresi sejak pagi hari hingga menjelang tidur pada malam hari. Gunakan krim pelembap jika stoking kompresi menyebabkan kulit kering.
  • Prosedur khusus. Ada beberapa jenis prosedur yang dapat dilakukan untuk mengobati varises, yaitu:
    • Skleroterapi, yaitu metode pengobatan yang dilakukan dengan menyuntikkan cairan khusus ke dalam vena secara langsung, sehingga pembuluh darah menyusut atau mengempis. Metode ini juga dilakukan untuk meredakan nyeri dan mencegah komplikasi, seperti perdarahan vena dan ulkus. Selain dengan cairan khusus, skleroterapi juga dapat dilakukan dengan menyuntikkan zat yang menyerupai busa. Metode ini biasanya dilakukan untuk mengobati varises pada pembuluh vena berukuran besar. Dokter akan dipandu dengan USG ketika melakukan penyuntikkan.
    • Terapi laser. Metode pengobatan dengan menembakkan sinar laser ke arah pembuluh darah yang mengalami varises untuk mengecilkan dan menghilangkan varises tersebut. Terapi laser umumnya dilakukan jika varises berukuran kecil.
    • Terapi ablasi endotermal (radiofrekuensi). Prosedur pengobatan dengan menggunakan gelombang radio berfrekuensi tinggi yang diarahkan ke area varises. Dokter akan membuat sayatan kecil di dekat varises, kemudian memasukkan kateter kecil ke dalam vena. Perangkat di bagian ujung kateter akan memanaskan bagian dalam vena dan menutupnya. Setelah pembuluh vena tertutup, darah akan mengalir secara alami melalu pembuluh vena lain yang sehat.
    • Ambulatory phlebectomyDokter akan membuat sayatan kecil di kulit untuk menghilangkan varises berukuran kecil. Prosedur ini biasanya digunakan untuk menghilangkan varises yang dekat dengan permukaan kulit.
    • Transenduminated power phlebectomyProsedur pengobatan dengan memasukkan serat optik yang dilengkapi cahaya ke bawah kulit. Melalui serat optik ini, dokter akan menyuntikkan larutan garam dan memasukkan sebuah jaringan untuk memotong vena yang mengalami varises.
    • Ligasi pembuluh vena. Tindakan operasi yang dilakukan dengan mengikat dan mengangkat pembuluh vena melalui sayatan kecil. Pengangkatan pembuluh vena tidak akan memengaruhi sirkulasi darah di kaki karena pembuluh vena dalam akan menjaga pasokan darah dalam jumlah besar.
    • Endoskopi pembuluh vena (endoscopic vein surgery). Tindakan ini umumnya dilakukan jika varises telah menyebabkan ulkus di bagian tungkai dan jika metode pengobatan lain tidak efektif. Dokter akan menggunakan tabung elastis berkamera yang dimasukkan ke dalam kaki. Melalui alat ini, dokter akan memperoleh gambaran visual kondisi varises, kemudian menutup dan mengangkat jaringan vena melalui sayatan kecil.

Pencegahan Varises

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko munculnya varises. Di antaranya adalah:
  • Berolahraga secara rutin
  • Menjaga berat badan ideal
  • Mengonsumsi makanan tinggi serat dan rendah garam
  • Hindari menggunakan sepatu hak tinggi untuk jangka waktu yang lama
  • Hindari berdiri atau duduk dalam waktu yang lama, dan usahakan untuk bergerak tiap 30 menit
  • Gunakan bantal untuk menyangga kaki ketika berbaring sehingga posisi kaki lebih tinggi



Sumber:
https://www.alodokter.com/varises/pengobatan


Upaya unyuk Mencegah, serta Menanggulangi Stroke

Gejala Stroke Ringan dan Cara Pencegahannya


Gejala stroke ringan disarankan untuk tidak diabaikan meskipun hanya berlangsung beberapa menit dan tidak menyebabkan kerusakan, tetapi kondisi ini bisa menjadi peringatan. Karena 1 dari 3 orang yang pernah mengalami stroke ringan, bisa mengalami stroke dan sekitar setengahnya terjadi dalam waktu satu tahun.
Stroke ringan  dalam bahasa medis disebut juga serangan iskemik transien (sesaat) atau Transient Ischaemic Attack (TIA). Kondisi ini memiliki pengertian yang sama dengan stroke, yaitu adanya hambatan aliran darah ke otak. Stroke ringan terjadi karena adanya endapan kolesterol yang mengandung lemak, dikenal dengan istilah plak (aterosklerosi), di dalam arteri yang menghantarkan oksigen dan nutrisi ke otak.
Gejala Stroke Ringan dan Cara Pencegahannya - Alodokter
Risiko seseorang untuk terserang stroke ringan akan lebih tinggi jika:
  • Berusia di atas 55 tahun.
  • Pernah mengalami stroke ringan sebelumnya atau punya riwayat keluarga dengan stroke ringan.
  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
  • Memiliki kebiasaan merokok.
  • Menderita penyakit tertentu, seperti gangguan irama jantung (aritmia), diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, dan anemia sel sabit.
Bedanya dengan stroke, penyumbatan tersebut berlangsung singkat dan biasanya tidak menimbulkan kerusakan permanen. Namun pada beberapa kasus, kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit stroke.

Kenali Gejala Stroke Ringan

Orang yang mengalami stroke ringan perlu segera mendapatkan pemeriksaan dan perawatan medis di rumah sakit. Berikut ini adalah gejala-gejala stroke ringan yang perlu dikenali:
  • Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh, seperti wajah, lengan, atau kaki.
  • Cara berbicara menjadi kacau, cadel, dan tidak jelas.
  • Kebingungan atau kesulitan memahami perkataan orang lain.
  • Pandangan mata kabur, atau bahkan mengalami kebutaan di salah satu atau kedua mata.
  • Kesemutan atau mati rasa mendadak di bagian tubuh tertentu.
  • Pusing atau kehilangan keseimbangan secara mendadak.
  • Sakit kepala parah tanpa sebab apa pun yang muncul tiba-tiba.

Mencegah Stroke Ringan

Mengingat bahwa stroke ringan berpotensi berkembang menjadi stroke, maka penting untuk mencegahnya. Berikut ini adalah beberapa cara mencegah stroke ringan yang bisa Anda lakukan mulai sekarang:

1. Menurunkan tekanan darah tinggi

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko terbesar yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami stroke ringan. Oleh karena itu, jagalah agar tekanan darah tidak lebih dari 120/80 mmHg.
Caranya adalah dengan banyak makan buah dan sayuran, mengurangi konsumsi garam atau makanan yang asin, dan menghindari makanan yang mengandung kolesterol tinggi. Jangan lupa berolahraga sekitar 30 menit setiap harinya, berhenti merokok, dan perbanyak konsumsi asam lemak omega-3, seperti dari telur dan ikan.

2. Menurunkan berat badan

Obesitas bisa meningkatkan peluang seseorang terserang stroke ringan. Jika sudah mengalami berat badan berlebih, disarankan untuk menurunkan berat badan agar risiko terkena penyakit stroke berkurang.

3. Menjalani olahraga secara rutin

Olahraga mempunyai peranan penting untuk menurunkan berat badan dan menjaga stabilnya tekanan darah. Beberapa jenis olahraga, seperti berjalan kaki, jogging, berenang, bersepeda, atau latihan fisik di gym, yang dilakukan setidaknya 4-5 kali seminggu bisa menurunkan risiko stroke ringan dan penyakit jantung.

4. Mengobati diabetes

Penderita diabetes dengan kadar gula darah yang tinggi di dalam tubuhnya dapat mengalami kerusakan dan sumbatan di pembuluh darah. Jika merusak pembuluh darah otak, maka risiko terkena stroke akan menjadi lebih tinggi.
Oleh karena itu, kendalikan kadar gula darah dengan menjaga pola dan porsi makan, rutin olahraga, serta minum obat-obatan yang sudah diresepkan oleh dokter.

5. Menghentikan kebiasaan merokok

Merokok dapat meningkatkan risiko stroke karena membuat darah Anda mengental dan meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis, yaitu penumpukan plak yang dapat menyumbat pembuluh darah. Itulah sebabnya, berhenti merokok merupakan salah satu cara untuk mengurangi risiko terjadinya stroke ringan.
Jika mengalami gejala stroke ringan seperti yang disebutkan di atas, jangan tunda untuk segara ke rumah sakit agar kondisi ini dapat tertangani secepatnya oleh dokter spesialis saraf. Semakin cepat stroke ringan diobati, maka risiko penyakit ini berkembang menjadi stroke pun akan lebih rendah.



Jantung dan Pembuluh Darah


JANTUNG

Jantung (bahasa Latincor) adalah sebuah rongga, rongga organ berotot yang memompa darah lewat pembuluh darah oleh kontraksi berirama yang berulang. Darah menyuplai okisgen dan nutrisi pada tubuh, juga membantu menghilangkan sisa-sisa metabolisme. Istilah kardiak berarti berhubungan dengan jantung, dari kata Yunani cardia untuk jantung. Jantung adalah salah satu organ manusia yang berperan dalam sistem peredaran darah, terletak di rongga dada agak sebelah kiri.
Pada manusia, mamalia, dan burung, jantung dibagi menjadi empat ruas: atrium atas kanan dan kiri; dan ventrikel bawah kanan dan kiri. Pada umumnya atrium dan ventrikel kanan disebut jantung kanan, dan sisanya disebut jantung kiri. Ikan hanya memiliki dua ruas, sebuah atrium dan sebuah ventrikel, sementara reptil memiliki tiga ruas. Pada jantung yang sehat darah mengalir satu arah melalui pembuluh darah. Terdapat sebuah kantung pembungkus yang melindungi jantung, perikardium, yang juga mengandung sedikit cairan. Dinding jantung tersusun atas tiga lapisan: epikardium, miokardium, dan endokardium.
Jantung memompa darah melewati dua sistem sirkulasi. Darah yang berasal dari sistem peredaran darah besar mengandung sedikit oksigen dan memasuki atrium kanan melalui vena kava superior dan inferior menuju ventrikel kanan. Dari sini darah dipompa menuju paru-paru, tempat darah memperoleh oksigen dan meninggalkan karbon dioksida. Darah yang sudah mengandung oksigen kembali menuju atrium kiri, melewati ventrikel kiri dan dipompa menuju seluruh tubuh melalui aorta—di mana oksigen dipakai dan melalui metabolisme menjadi karbon dioksida. Ditambah lagi, darah juga membawa nutrisi dari hati menuju berbagai organ tubuh, sementara membawa zat sisa menuju hati dan ginjal. Normalnya, jumlah darah yang terpompa menuju paru-paru sama dengan jumlah darah yang terpompa ke seluruh tubuh. Pembuluh vena memompa darah menuju jantung dan membawa darah yang kaya karbon dioksida - kecuali vena pulmonaris dan vena pada sistem pencernaan. Arteri membawa darah keluar jantung, membawa oksigen selain pada arteri pulmonaris. Jarak yang jauh dari jantung membuat pembuluh vena memiliki tekanan yang lebih kecil dari pembuluh arteri. Ketika beristirahat, jantung berdetak kurang lebih 72 kali per menit. Latihan fisik biasanya mengangkat jumlahnya, tetapi jumlah melambat selama beberapa waktu, yang baik untuk jantung.
Penyakit kardiovaskular adalah penyebab kematian yang umum pada tahun 2008, membawa 30% manusia pada kematian. Diikuti oleh penyakit pembuluh koroner dan stroke. Penyebab utamanya adalah: merokokobesitas, latihan yang kurang, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggidiabetes, dan lain-lain. Diagnosis dari kardiovaskular seringkali dilakukan dengan stetoskop, ECG atau melalui pendengaran ultrasonik. Spesial yang fokus pada penyakit jantung disebut kardiologis, meskipun dibutuhkan spesialis lain untuk menanganinya.

Permukaan jantung

Bagian-bagian dari jantung
Jantung adalah satu otot tunggal yang terdiri dari lapisan endothelium. Jantung terletak di dalam rongga torakik, di balik tulang dada. Struktur jantung berbelok ke bawah dan sedikit ke arah kiri. Massanya kurang lebih 300 gram, besarnya sebesar kepalan tangan.
Jantung hampir sepenuhnya diselubungi oleh paru-paru, tetapi tertutup oleh selaput ganda yang bernama perikardium, yang tertempel pada diafragma. Lapisan pertama menempel sangat erat kepada jantung, sedangkan lapisan luarnya lebih longgar dan berair, untuk menghindari gesekan antar organ dalam tubuh yang terjadi karena gerakan memompa konstan jantung.
Jantung dijaga di tempatnya oleh pembuluh-pembuluh darah yang meliputi daerah jantung yang merata/datar, seperti di dasar dan di samping. Dua garis pembelah (terbentuk dari otot) pada lapisan luar jantung menunjukkan di mana dinding pemisah di antara serambi dan bilik jantung.

Struktur internal jantung

Secara internal, jantung dipisahkan oleh sebuah lapisan otot menjadi dua belah bagian, dari atas ke bawah, menjadi dua pompa. Kedua pompa ini sejak lahir tidak pernah tersambung. Belahan ini terdiri dari dua rongga yang dipisahkan oleh dinding jantung. Maka dapat disimpulkan bahwa jantung terdiri dari empat rongga, serambi kanan & kiri dan bilik kanan & kiri.
Dinding serambi jauh lebih tipis dibandingkan dinding bilik karena bilik harus melawan gaya gravitasi bumi untuk memompa dari bawah ke atas dan memerlukan gaya yang lebih besar untuk mensuplai peredaran darah besar, khususnya pembuluh aorta, untuk memompa ke seluruh bagian tubuh yang memiliki pembuluh darah.
Tiap serambi dan bilik pada masing-masing belahan jantung dipisahkan oleh sebuah katup. Katup di antara atrium kanan dan bilik kanan disebut katup trikuspidalis atau katup berdaun tiga. Sedangkan katup yang ada di antara serambi kiri dan bilik kiri disebut katup mitralis atau katup bikuspidalis (katup berdaun dua).

Cara kerja jantung

Pada saat berdenyut setiap ruang jantung mengendur dan darah masuk ke jantung (disebut 'diastol'). Selanjutnya jantung berkontraksi dan memompa darah keluar dari ruang jantung (disebut 'sistol'). Kedua serambi berkontraksi dan berelaksasi secara bersamaan, dan kedua bilik juga mengendur dan berkontraksi secara bersamaan. Darah yang sudah mengandung sedikit oksigen dan mengandung banyak karbondioksida (darah kotor) dari seluruh tubuh mengalir melalui dua vena berbesar (vena kava) menuju ke dalam atrium kanan. Setelah atrium kanan terisi darah, ia akan mendorong darah ke dalam ventrikel kanan melalui katup trikuspidalis. Darah dari ventrikel kanan akan dipompa melalui [katup pulmoner] ke dalam [arteri pulmonalis] menuju ke [paru-paru]. Darah akan mengalir melalui pembuluh yang sangat kecil (pembuluh kapiler) yang mengelilingi kantong udara di paru-paru, menyerap oksigen, melepaskan karbondioksida dan selanjutnya dialirkan kembali ke jantung. Darah yang kaya akan oksigen mengalir di dalam vena pulmonalis menuju ke atrium sinistra. Peredaran darah di antara bagian kanan jantung, paru-paru dan atrium kiri disebut sirkulasi pulmoner karena darah dialirkan ke paru-paru. Darah dalam atrium sinistra akan didorong menuju ventrikel sinistra melalui katup bikuspidalis/mitral, yang selanjutnya akan memompa darah bersih ini melewati [katup aorta] masuk ke dalam [aorta] (arteri terbesar dalam tubuh). Darah kaya oksigen ini disirkulasikan ke seluruh tubuh, kecuali paru-paru. dan sebagainya.

Seputar kesehatan jantung

Jantung merupakan salah satu organ terpenting tubuh, kelainan pada jantung dapat berisiko kematian. Masalah pada jantung dibagi karena kegagalan organ jantung seringkali hampir menjadi dua bagian, yaitu penyakit jantung dan serangan jantung.

Penyakit jantung

Penyakit jantung adalah sebuah kondisi yang menyebabkan Jantung tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Hal-hal tersebut antara lain:
  • Otot jantung yang lemah. Ini adalah kelainan bawaan sejak lahir. Otot jantung yang lemah membuat penderita tak dapat melakukan aktivitas yang berlebihan, karena pemaksaan kinerja jantung yang berlebihan akan menimbulkan rasa sakit di bagian dada, dan kadangkala dapat menyebabkan tubuh menjadi tampak kebiru-biruan. Penderita lemah otot jantung ini mudah pingsan.
  • Adanya celah antara serambi kanan dan serambi kiri, oleh karena tidak sempurnanya pembentukan lapisan yang memisahkan antara kedua serambi saat penderita masih di dalam kandungan. Hal ini menyebabkan darah bersih dan darah kotor tercampur. Penyakit ini juga membuat penderita tidak dapat melakukan aktivitas yang berat, karena aktivitas yang berat hampir dapat dipastikan akan membuat tubuh penderita menjadi biru dan sesak napas, walaupun tidak menyebabkan rasa sakit di dada. Ada pula variasi dari penyakit ini, yakni penderitanya benar-benar hanya memiliki satu buah serambi.

Serangan jantung

Serangan jantung adalah sebuah kondisi yang menyebabkan jantung sama sekali tidak berfungsi. Kondisi ini biasanya terjadi mendadak, dan sering disebut gagal jantung. Penyebab gagal jantung bervariasi, tetapi penyebab utamanya biasanya adalah terhambatnya suplai darah ke otot-otot jantung, oleh karena pembuluh-pembuluh darah yang biasanya mengalirkan darah ke otot-otot jantung tersebut tersumbat atau mengeras, entah oleh karena lemak dan kolesterol, ataupun oleh karena zat-zat kimia seperti penggunaan obat yang berlebihan yang mengandung Phenol Propano Alanin (ppa) yang banyak ditemui dalam obat-obat seperti decolgen, dan nikotin.
Belakangan ini juga sering ditemukan gagal jantung mendadak ketika seseorang sedang beraktivitas, seperti yang menyerang beberapa atlet-atlet sepak bola ternama di dunia di tengah lapangan sepak bola.[1]. Biasanya hal itu disebabkan oleh pemaksaan aktivitas jantung yang melebihi ambang batas dari suplai darah ke jantung, karena telah terjadi penyempitan arteri akibat plak dan hal ini disebut penyakit iskemia koroner.
Makanan juga menjadi penyebab utama terjadinya serangan jantung, terutama makanan cepat saji (junk food). Para penelti dari McMaster University, Kanada, menemukan hasil bahwa orang yang banyak mengonsumsi makanan yang digoreng, camilan bergaram, dan daging memiliki risiko serangan jantung lebih dari 35 persen lebih besar dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi sedikit atau tidak mengonsumsinya[2].

Penanggulangan

Tidak ada penanggulangan yang lebih baik untuk mencegah penyakit dan serangan jantung, di samping gaya hidup sehat (seperti sering bangun lebih pagi, tidak sering tidur terlalu larut malam, dan menghindari rokok dan minuman beralkohol), pola makanan yang sehat (memperbanyak makan makanan berserat dan bersayur, serta tidak terlalu banyak makan makanan berlemak dan berkolesterol tinggi), dan olahraga yang teratur dan tidak berlebihan. Namun, ada beberapa zat yang dipercaya mampu memperkecil atau memperbesar risiko penyakit dan serangan jantung, di antara lain:
  • Beberapa peneliti menyebutkan bahwa zat allicin di dalam bawang putih ternyata dapat membantu menjaga kesehatan jantung. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa oleh khasiat zat allicin, ketegangan pembuluh darah berkurang 72%[3]. Namun beberapa peneliti lain ada juga yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara bawang putih dengan kesehatan jantung. Dalam studi yang dilakukan pada 90 perokok berbadan gemuk, para peneliti Eropa mendapati bahwa tambahan bubuk bawang putih selama 3 bulan tak memperlihatkan perubahan dalam kadar kolesterol mereka atau beberapa tanda lain risiko penyakit jantung[4].
  • Studi membuktikan bahwa mengurangi merokok tidak mengurangi risiko penyakit jantung. Untuk benar-benar mengurangi risiko penyakit jantung, seseorang harus benar-benar berhenti merokok [5].
  • Penemuan yang diterbitkan dalam Journal of the American College of Cardiology mengungkapkan konsumsi suplemen Vitamin C dapat mengurangi risiko penyakit jantung[6].
  • Penelitian menunjukkan, mengurangi konsumsi garam dapat mengurangi risiko penyakit jantung. Konsumsi garam dapat meningkatkan tekanan darah. Pada percobaan diet rendah garam menunjukkan risiko penyakit jantung hingga 25% dan risiko serangan jantung hingga 20%
  • Konsumsi makanan-makanan yang dapat menjaga kesehatan jantung seperti salmon, tomat, minyak zaitun, gandum, almond, dan apel; habatussauda dan obat herbal lainnya


Penyakit Pada Jantung:

Kardiovaskuler

Hingga 63% kematian yang terjadi di dunia disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler. Di Asia Tenggara sendiri, angka kematian sekitar 3,6 juta disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler, dimana angka tersebut adalah seperempat dari angka total kematian setiap tahunnya. 1
Di Indonesia sendiri, penyakit kardiovaskuler, stroke dan penyakit jantung koroner adalah penyebab utama kematian yang menyebabkan lebih dari 470.000 kematian setiap tahunnya.2
Pada tahun 2014, angka kematian di Indonesia sebesar 1.551.000 jiwa, di mana 37% dari angka kematian tersebut disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler. 3
PJK adalah nama kelompok penyakit yang mengenai jantung dan pembuluh darah. Contoh dari PJK adalah penyakit jantung koroner (PJK), stroke, trombosis dan peripheral artery disease (PAD). PJK dan stroke dapat disebabkan oleh penyumbatan dalam pembuluh darah.14
Selain itu PJK mempengaruhi struktur dan fungsi dari jantung, seperti :4
    Penyempitan arteri jantung. Serangan jantung. Detak jantung yang tidak normal, atau aritmia. Gagal jantung. Penyakit katup jantung. Penyakit otot jantung (kardiomiopati). Penyakit vaskular (penyakit pembuluh darah).

Apa saja gejala penyakit kardiovaskuler?1

Gejala yang paling umum dirasakan adalah:
  • Nyeri pada dada atau ketidaknyamanan yang bisa berlangsung selama beberapa menit.
  • Sesak napas atau kesulitan bernapas.
  • Kelelahan dan kelemahan.
  • Berdebar.
  • Pembengkakan pada pergelangan kaki, perut.

Faktor Risiko PJK 5,6

  • Alkohol
    Mengonsumsi alkohol dalam jumlah banyak dapat meningkatkan risiko PJK.
  • Berat Badan
    Kelebihan berat badan dan/atau obesitas meningkatkan risiko PJK.
  • Tekanan Darah
    Tekanan darah tinggi secara langsung dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya PJK.
  • Diabetes dan Prediabetes
    Diabetes secara substansial dapat meningkatkan risiko PJK. Laki-laki dengan diabetes melitus tipe 2 memiliki risiko terkena PJK 2-4 kali lebih besar, dan risiko ini lebih tinggi lagi pada perempuan dengan penderita diabetes melitus tipe 2.
  • Makanan
    Salah satu alasan mengapa angka kejadian PJK di Indonesia meningkat adalah pola makan yang kurang sehat, yaitu mengonsumsi lemak jenuh, kurangnya asupan sayur, dan buah-buahan. Selain itu, konsumsi garam juga sebaiknya dibatasi.
  • Olahraga
    Berdasarkan laporan WHO pada tahun 2002, PJK yang terjadi di negara maju disebabkan oleh kurangnya kegiatan fisik (olahraga).
  • Kolesterol Tinggi
    Risiko PJK secara langsung berhubungan dengan tingkat kolesterol.
  •  Merokok
    Merokok menyebabkan kematian yang berhubungan dengan PJK. Perokok pasif juga rentan terhadap bahaya kesehatan kardiovaskuler. Perokok pasif secara terus-menerus meningkatkan risiko PJK dengan kira-kira 25%.

Mengobati Penyakit Jantung Koroner7

Pengobatan dan perawatan yang dapat dilakukan untuk penyakit kardiovaskuler menggabungkan beberapa metode, seperti pemeriksaan fisik, cek darah untuk mengetahui kadar lemak, kolesterol dan trigliserida dalam darah, elektrokardiogram (ECG atau EKG), X-ray dada, uji tingkat stress dan imaging tests dan angiocardiography.
Sedangkan untuk pencegahannya dapat dilakukan dengan mengubah pola hidup, termasuk mengurangi konsumsi makanan berlemak dan tinggi garam, berolahraga secara rutin, berhenti merokok, dan mengurangi konsumsi minuman beralkohol.
Selain itu, obat-obatan resep tertentu juga dapat mengurangi timbulnya PJK dan dapat mencegah PJK.

Trombosis Vena Dalam

Trombosis Vena Dalam (TVD) terjadi akibat pembekuan darah pada satu atau lebih pembuluh darah. Selain dapat menyebabkan pembengkakan pada kaki, TVD juga sering terjadi tanpa adanya gejala atau tanda-tanda. TVD juga kerap terjadi pada seseorang yang mengalami kondisi medis yang memengaruhi pembekuan pada darah seperti pasien bed rest total yang tidak dapat bergerak dari tempat tidur (termasuk pasien pasca operasi yang tidak banyak bergerak selama suatu waktu). 9
Gumpalan darah yang terbentuk pada pembuluh darah vena disebut venous thrombosis. TVD biasanya terjadi pada pembuluh darah tungkai di mana vena lebih besar yang berjalan melalui otot-otot betis dan tungkai. TVD dapat menyebabkan rasa nyeri dan pembengkakan pada kaki dan jika tidak ditangani dapat menjadi sangat serius, karena gumpalan darah melepaskan diri dan mengalir ke paru dan menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah di paru (pulmonary embolism). Kondisi ini dapat berisiko gangguan pernapasan dan berisiko fatal. 8
TVD dan pulmonary embolism juga diketahui sebagai venous thromboembolism (VTE).12

Penyebab Trombosis Vena Dalam10

Pada dasarnya darah mengalir di dalam tubuh. Namun jika darah tidak mengalir maka hal tersebut memperlihatkan bahwa terjadi pembekuan atau penggumpalan darah. Terbentuknya pembekuan atau penggumpalan darah dapat disebabkan oleh beberapa kondisi di bawah ini:
  •  Imobilitas, misalnya duduk dalam perjalanan yang panjang, rawat inap, operasi, trauma pada tungkai bawah dengan atau tanpa operasi, kehamilan dan post partum, obesitas.
  • Koagulasi darah lebih cepat dari yang seharusnya (hypercoaguability).

Gejala dan Tanda Trombosis Vena Dalam11

Beberapa gejala dan tanda dari TVD:
  • Pembengkakan.
  • Nyeri.
  • Peningkatan suhu, kram, atau nyeri di area yang bengkak atau nyeri, biasanya betis atau tungkai.
  • Kulit kemerahan atau pucat.
TVD yang tidak ditangani dapat menjadi emboli paru, di mana gejalanya adalah :
  • Sesak napas.
  • Sakit saat mengambil napas yang dalam.
  • Napas cepat.
  • Peningkatan denyut jantung.
Gejala dan tanda lain pada pulmonary embolism adalah batuk, dengan atau tanpa darah; perasaan cemas atau takut; pusing atau pingsan; dan berkeringat.

Faktor Risiko Trombosis Vena Dalam12

Beberapa faktor risiko yang menyebabkan TVD yaitu:
  • Imobilitas, termasuk rawat inap dalam jangka waktu panjang karena sakit atau kecelakaan, perjalanan panjang (mobil atau pesawat).
  • Kehamilan.
  • Konsumsi pil kontrasepsi atau terapi hormon.
  • Merokok.
  • Kanker.
  • Operasi yang menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah pada kaki atau tangan.
  • Menurun secara genetik dalam hal pembekuan darah.
  • Obesitas.

Pencegahan Trombosis Vena Dalam13

Jika seseorang memiliki risiko mengalami TVD beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah pembekuan darah yaitu:
  • Berhenti merokok.
  • Konsumsi makanan sehat.
  • Rutin berolahraga.
  • Menjaga berat badan.
  • Mobilisasi dini.
  • Mendapat obat antikoagulan/profilaksis lainnya.
Temui dokter sebelum melakukan perjalanan panjang jika seseorang pernah mengalami TVD. Selain itu, cara mencegah TVD saat melakukan perjalanan jauh adalah mengonsumsi banyak air, melakukan latihan kaki sederhana, beristirahat, dan berjalan singkat.

Pengobatan Trombosis Vena Dalam10

Pengobatan TVD biasanya dengan mengonsumsi obat antikoagulan yang dapat menurunkan kemungkinan darah menggumpal dan menghentikan gumpalan darah menjadi besar.
  • Konsumsi obat
    • Antikoagulasi atau pengencer darah dapat menghentikan gumpalan darah membesar atau mencegah terjadinya penggumpalan baru lainnya. Beberapa efek samping dari obat ini termasuk pendarahan dapat terjadi jika mengonsumsi obat pengecer darah, seperti aspirin.
    • Thrombin inhibitor dapat menghentikan proses pembekuan dan dapat digunakan bagi orang yang tidak dapat mengonsumsi heparin.
    • Thrombolytics dapat digunakan untuk mengencerkan gumpalan darah yang besar yang dapat menyebabkan beberapa gejala dan komplikasi yang serius. Karena thrombolytics dapat menyebabkan pendarahan, maka penggunakannya hanya pada kondisi yang sangat serius atau jika sudah mengancam jiwa, termasuk emboli paru.
  • Kateter untuk menghilangkan thrombus
    Dalam beberapa kondisi darurat, dokter akan melakukan kateter untuk menghilangkan thrombus. Prosedur ini menggunakan tube yang fleksibel untuk menjangkau gumpalan darah pada paru. Dokter akan memasukkan alat ke dalam tabung untuk memecah gumpalan atau mengalirkan obat melalui tabung.
  • Vena cava filter
    Seseorang yang tidak dapat mengonsumsi obat pengencer darah akan memerlukan vena cava filter yang akan menangkap gumpalan darah sebelum gumpalan tersebut mengalir ke paru, hal ini dilakukan untuk mecegah pulmonary embolism. Namun, filter tidak menghentikan penggumpalan darah baru. Biasanya saringan tidak dianjurkan jika orang tersebut mengonsumsi pengencer darah.